Kosong Isi Pelajar Nganggur - 12th Journalist Days UI [day 1]

Selasa, 22 April 2014

Bleg!
Tiba-tiba mataku terbelalak menghadap plafon kamar, teringat bahwa hari ini aku harus pergi ke sebuah tempat yang jaraknya tidak dekat dan butuh waktu perjalanan tidak sebentar pula. Kulihat posel hitam mungilku tepat di sebelahku—di tengah permukaan kasurku yang kuwel-kuwelan.

“Ah, dua menit lagi alarmnya bunyi!”

Kuingat-ingat kembali hal yang semalam aku lakukan sebelum menikmati indahnya pulau kapuk—menyalakan alarm tepat pukul empat lebih sepuluh menit. Aku sudah tersadar, tetapi tubuh ini masih enggan untuk itu. Begitu malas, dingin.

Sempat muncul dalam niatku untuk tidak ikut acara tersebut, pasalnya malam tadi temanku yang sudah ingin ikut ternyata memutuskan untuk tidak jadi dengan sangat mendadak. Padahal, beberapa saat lalu kami telah menentukan dimana dan pukul berapa kami akan bertemu, namun semua nihil. Aku kecewa, sangat kecewa!

Aku kesal, gemas! Teman-temanku selalu memintaku untuk memberi info tentang sebuah event, tetapi apa? Yang ada justru hanya rencana belaka.......

Kembali kepada sebuah tatapan kosongku terhadap plafon,

Cukup lama aku menatap atas kamar, berfikir—apa aku tetap ‘memboyong’ diriku sendiri ataukah kembali tidur? Belum lagi aku harus segera menghubungi contact personnya sesegera mungkin, mengingat batas konfirmasi kedatangan harus segera disampaikan pukul enam. Ah, lalu aku harus bagaimana? Aku belum pernah melakukan perjalanan jauh sendiri? Aku terbiasa mengajak beberapa teman-teman sekolah, tetapi kali ini—sudah ku ajak tapi hasilnya nihil. Semangat yang sudah tumbuh sejak semalam perlahan runtuh, berubah menjadi rasa kantuk yang kembali membuai mataku.

Tak lama, aku mendengar suara-suara orang yang sedang ber-tadarrus yang keluar dari speaker masjid dekat rumah. Itu tandanya, subuh akan menjelang. Anehnya, semakin suara itu terdengar jelas, semakin naik gairahku untuk bangkit dari wahana kapuk ini. Semakin menarikku untuk melakukan aktivitas. Semakin naik juga keinginanku untuk tetap pergi ke acara itu—Tapi? Apa ini keputusan yang tepat?

….

“Kayaknya perasaan gue ga enak kalau besok pergi”

Balas pesan singkat salah seorang temanku yang awalnya ingin ikut namun akhirnya tidak jadi. Seakan ia juga ingin mengahasutku untuk tidak datang. Aku pun juga jadi kepikiran dengan kata-katanya itu. Terbayang-bayang, takutnya ‘ada benarnya juga kata-katanya’.
Aku segera angkat badan, duduk di tepi kasur lalu menggaruk kepala. Masih ku fikirkan satu kali lagi, lagi, lagi dan lagi. “Kalau misalnya itu beneran kejadian gimana? Aku kan ke sana sendirian.......”

Ku tarik nafas panjang dan berulang, dan entah mengapa tiba-tiba kakiku begitu semangat untuk menggiringku ke kamar mandi. Ku turuni satu demi satu anak tangga, menuju ke ‘ruang pembersihan’ di lantai bawah. Masih dalam keadaan yang belum sadar betul, lebih tepatnya dalam keadaan mata tertutup.

Hingga akhirnya aku berhasil menuruni anak tangga tanpa melihat dan tiba-tiba kamar mandi sudah ada di depan mukaku. Ku lanjutkan langkahku masuk lalu menutup pintunya.

....

/ini sesi bahaya, sampai disitu aja/ /dijitak

Selama kurang lebih tiga puluh menit di dalam—merenung, alhasil muncul keputusan, “Kali ini aku ingin jalan sendiri!”

Setelah itu, kegiatan ‘bersih-bersih’ telah usai tepat azan subuh berkumandang. Tubuh pun menjadi segar—tepatnya dingin. Ku segera berkemas, menyiapkan apa saja yang akan aku bawa. Baju panjang dan hijab berwarna hijau serta rok hitam adalah kostumku hari ini. Laptop, flashdisk,air minum, uang secukupnya serta bekal—lima potong bolu yang khusus disiapkan ibu.

Memang, jika aku pergi ke sebuah event, malas sekali rasanya untuk sekadar jajan di sana. Sudah jelas, pasti harganya dua kali lebih mahal dibanding harga aslinya. Seandainya membawa uang lebih, aku gunakan untuk membeli benda yang aku suka dan pasti bermanfaat. Berdasarkan alasan itulah, aku lebih suka menyiapkan bekal makanan dan minuman dari rumah ketimbang mengandalkan jajan.

..

“Kamu yakin berangkat sendirian?”, tanya ibu meragukan. “Katanya teman-temanmu ga ikut? Tapi kok kamu malah tetap nekat jalan?”

“Ya, gimana ma? Aku benar-benar ingin datang!”, jawabku meyakinkan. “Biarin aja kalau pada ga mau ikut, aku juga ga maksain, kok!”

Ibu terdiam lesu, sepertinya ia punya asumsi yang tidak jauh berbeda dengan temanku itu—dari SMS yang ia balas untukku malam tadi. Tetapi aku tetap kekeuh pada keputusanku.

Langsung saja, segera aku menuju ke dapur, sarapan nasi dan sepotong martabak telur. Setelah itu, aku segera bergegas ke teras—membawa tas yang cukup berat ini lalu mengenakan kaus kaki. Beruntung, ayah membantuku untuk memanasi motor lalu mengeluarkannya dari teras rumahku yang sempit. Alhamdulillah!

“Ibu, ayah, aku berangkat ya? Assalamu’alaikum!”, ujarku sambil menciumi punggung telapak tangan kedua orangtuaku. “Doakan aku agar sampai ke tempat tujuan dan pulang dengan selamat ya, bu? Yah?”

Mereka tersenyum lalu mengangguk.

....

Aku segera mengenakan slayer disusul sepasang sarung tangan serta helm. Ku tekan tombol start berwarna kuning yang berada di sisi bawah pedal gas. Ku diamkan sebentar motorku lalu perlahan aku menarik pedal gas tersebut untuk memutar kedua rodanya.

Singkat cerita, akhirnya aku tiba di stasiun Bekasi tepat pukul 05.30. Aku segera menuju 
loket untuk membeli e-ticket. Antrian yang sangat panjang membuatku gemas. Ah tapi, ini sudah hal yang mainstream, mungkin, namanya juga jam sibuk.

Setelah e-ticket terbeli, langsung saja aku menuju sebuah kereta commuter line yang sudah siap memboyong kami ke tempat tujuan masing-masing. Suasana tidak jauh berbeda seperti di loket, begitu padat dan menyiksa. Aku stuck di posisi yang sama di sepanjang jalan sampai akhirnya aku transit di stasiun Manggarai. Untung saja, kereta dengan jenis yang sama untuk tujuan Depok sangat lengang, lega dan bebas. Bahkan aku bisa duduk manis sambil membaca buku dengan tenang sampai stasiun tujuan, Universitas Indonesia.

....

Masih jam 07.04, masih lama banget. Sempat terfikir untuk sekadar jalan-jalan mengelilingi kampus terluas di Jakarta ini. Hawanya yang sejuk benar-benar menggoda iman, tapi takutnya ga keburu. Karena ragu, akhirnya aku hanya duduk di halte bus kuning sambil memainkan ponsel, di tengah segabreg mahasiswa UI ini. Berasa kayak mereka nih hehehehe..

Kurang lebih satu jam disini, rasanya benar-benar bosan. Daripada semakin suntuk, langsung saja aku menuju Pusat Studi Jepang UI melewati sebuah akses jalan terbuka hijau yang dikhususkan untuk pejalan kaki dan pengendara sepeda tepat di depan stasiun. Ah, memang jalan sendiri lebih seru! Bisa menikmati seluk-beluk kampus elite ini dengan bebas!

Akhirnya, sampai juga di Gedung PSJ UI. Untuk apa?


Ya, aku menghadiri 12th Journalist Days untuk mengikuti training penulisan. Dimulai tepat pukul 09.00, acara dibuka dengan sambutan-sambutan dari penyelenggara acara, lalu masuk ke acara inti. Yosh! Presentasi dimulai dari Bapak Wisnu Nugroho, mahasiswa UI yang sedang menempuh pascasarjana sekaligus penulis buku dan jurnalis dari Kompas. Mantap! 

Tiga jam terasa begitu singkat! Seru pake banget! Buatku, ia bisa membuatku sangat excited, cara penyampaiannya yang ringan serta menghibur layaknya sedang stand up comedy. Ia termasuk jurnalis muda dan kelewat gokil.

Saat kami sedang asyik melakukan tanya jawab, panitia justru menghentikannya karena sudah masuk jam istirahat. Sebenarnya ada hal yang mau saya tanya, eh ga keburu. Yaudah, rapopo.

Kegiatan pertama yang aku lakukan adalah shalat lalu kembali ke ruangan. Iseng-iseng ga tau ngapain, aku memotret suasana ruangan saat sedang sepi.

Oh iya, sebenarnya aku sudah berkali-kali mendatangi gedung ini—menghadiri kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan kebudayaan dan sastra Jepang. Karena memang kan ini gedung pusat studi Jepang. Benar, kan?

Meskipun statusku masih pelajar dari sebuah SMK Negeri di Bekasi, tetapi aku sering mengajak teman-temanku kesini, ya untuk menghadiri kegiatan-kegiatan Matsuri (festival Jepang) dan pernah juga mengikuti EJU (The Examination for Japanese University Admission for International Students) atau istilah dalam bahasa Indonesia-nya itu ‘Ujian Pendidikan Jepang yang Diperuntukkan Untuk Pelajar Asing’ atau kurang lebhnya seperti itu artinya.

Karena penggemar Jepang di Indonesia—khususnya di wilayah Jabodetabek begitu banyak, maka otomatis setiap kami kesini selalu ramai dikunjungi.

Tetapi berbeda dengan keadaan PSJ UI saat ini. 



Lihat? Hanya segelintir orang saja disini, sepi, hening. Ya, memang acara ini diadakan di jam kerja dan sekolah serta jumlah bangku yang tersedia untuk peserta sangat terbatas. Mungkin saja acara ini sengaja digelar pada waktu weekdays untuk mencegah terjadinya lonjakan peserta? Bisa jadi. Sangat mungkin terjadi.
Tetapi, justru karena pesertanya tidak terlalu banyak, aku malah lebih konsentrasi untuk menyimak dan sangat kondusif.


Ini suasana ruangan training saat istirahat hehehehe

Hm, ngomong-ngomong sekarang aku sedang membahas jam istirahat, ga afdal dong kalau tidak membicarakan lunch nya?





Jeng jeng jeeeeng! Ini dia, pembabat habis rasa laparku. Sebuah kotak putih berisi nasi uduk dan ayam goreng plus sambal terasinya! Panitia tahu aja kesukaan saya, haha!

Ibadah? Sudah. Foto-foto? Sudah. Makan? Sudah juga. Nah, sekarang lanjut ke sesi training ke dua. Trainer kali ini adalah Bapak Sandy Indra Pratama, jurnalis dari majalah Tempo. Sama seperti Pak Wisnu, dia juga menyenangkan! Pengalamannya seputar penulisan berita untuk majalah Tempo yang terkenal dengan isinya yang cukup kritis membuatku sangat antusias untuk menyimaknya.

**Sebenarnya dari awal aku ingin sekali berfoto dengan kedua Trainer itu, sayangnya, aku sendiri, malu, dan tidak dapat cemceman satupun dari acara itu!! /telen tissue/

Oke, baiklah, di skip saja, akhirnya tepat pukul 4 sore acara selesai. Tetapi tidak secepat itu pula aku bisa langsung pulang. Hujan badai yang mengguyur UI membuatku tertahan satu jam di mushallah. Jam 5, hujan itu mulai reda. Ah, aku pulang telat, diluar rencanaku yang ingin sampai rumah saat jam maghrib tiba.

Aku segera keluar dan bergegas ke stasiun, melewati akses jalan yang sama seperti tadi pagi.

Sampai di stasiun, tiba-tiba kereta tujuan Manggarain datang. Dari loket aku segera berlari menuju peron, bersama calon penumpang lainnya.

Keadaan dalam gerbong kereta cukup padat, tetapi masih cukup leluasa untuk sekadar mengecek ponsel atau stretching kecil.

Sesampainya di stasiun Manggarai untuk transit, ‘perasaan ga enak’ mulai muncul. Penumpang yang akan menuju Bekasi sangat bejubel di peron empat ini. Lagi-lagi, faktor jam sibuk inilah yang menjadi penyebab utamanya.

Satu jam aku dan ratusan calon penumpang menunggu, namun kereta tak kunjung datang. Hingga akhirnya pukul 18.02 kereta tiba dan...

...

Sangat amat benar-benar tidak dapat dimasuki oleh satu dari kami. Sangat penuh.

Kami yang sudah sangat sabar menunggu kedatangannya harus menelan rasa gondok yang tidak terbendung. Apalagi aku kini berdiri di peron untuk gerbong khusus wanita, tahu sendiri kan gimana reaksinya kalau para wanita kecewa? Hahahahaha!

Hingga akhirnya,dari arah speaker terdengar jelas petugas berbicara.

“Bagi penumpang Commuter Line tujuan Bekasi yang tidak dapat memasuki gerbong, jangan dipaksakan! Sebentar lagi satu rangkaian kereta Bekasi akan segera memasuki jalur satu”

Sontak saja, kami semua yang sudah kesal buru-buru lari ke jalur satu. Seluruh calon penumpang riuh, berebut agar bisa mendapat duduk. Apalagi, peron di jalur satu adalah peron terpendek (dalam artian tingginya) hingga akhirnya kami pun kembali berebut untuk menaiki tangga bantuan.

Yosh! Sebuah kereta Commuter Line yang kosong akhirnya tiba (sepertinya ini termasuk kereta cadangan, karena kereta ini datangnya dari arah Jatinegara, seharusnya kan dari arah Jakarta Kota? Apalagi kosong? Mungkin pihak KAI menjalankan rangkaian kereta ini untuk mengantisipasi lonjakan penumpang saat jam sibuk. Ah, tapi sih ini hanya pendapatku saja karena aku baru pertama kali menaiki kereta di jam super sibuk seperti ini hehe).

Kami berdiri, menyambut kedatangannya dengan amat bahagia—melihat isi gerbong yang amat ‘suci’. Tetapi, teriakan “YAAHHH” kami kembali terlontar saat kereta nyaris saja melewati kami, alias kami hampir tidak kebagian pintu. Kita-kita sih bilangnya, “Keretanya kebablasan!”

Ah, alhamdulillah, pintu paling ujung masih memberi kami kesempatan untuk naik, walaupun nyaris, nyariiis, nyariiiiiiiiiiiiiiiisssss tidak pas. Tak lama pintu otomatis terbuka, waahh, segerombolan ‘ibu-ibu’ pun langsung melancarkan aksinya—bahu-membahu untuk dorong-mendorong. Maklum, takut ga bisa masuk lagi. Soalnya, kami harus menunggu berapa lama lagi untuk menunggu kedatangan kereta selanjutnya?
Semua penumpang sudah naik ke gerbong, tapi...

BEEEEUUHHHHH!!!!
AKU TIDAK DAPAT BERNAFAS APALAGI BERGERAAAAAK!!!!!!
KEDUA TANGANKU YANG SEDANG MEMEGANG TAS BERISI LAPTOP DITAMBAH SOUVENIR SEGAMBRENG PUN JATUH TAK TERLIHAT.
KAKIKU YANG TERTIBAN SEBUAH TAS YANG SANGAT BERAT MILIK IBU-IBU DI BELAKANGKU.
TUBUHKU YANG CONDONG KE DEPAN, LALU KE KIRI DAN KE KANAN AKIBAT DORONGAN-DORONGAN PASIF NAMUN AGRESIF
...

Oke,
Kini aku berada di keadaan yang sangat stuck—pasrah. Siksaan untukku belum sampai disitu, kereta ini ternyata ditahan selama kurang lebih lima belas menit. Bisa dibayangkan saat situasi seperti ini aku harus berdiri dengan keadaan seperti itu tanpa sedikitpun ruang untuk bergerak? Mendingan jangan dibayangkan, ga penting juga sih sebenarnya.

Tolonglah. Aku sudah teramat lelah, wahai pak masinis.

..
Hingga akhirnya, pintu otomatis mulai ditutup. Buka, ketutup, kebuka lagi, ketutup lagi. Pintu tersebut tidak kunjung berhenti untuk membuka tutup seperti itu. Bahkan baru saja jalan, kereta mendadak berhenti lagi dan pintu otomatis kembali seperti itu.  Para penumpang yang berada persis di depan pintu otomatis pun gondoknya bukan main. Mereka harus melakukan bagaimana caranya supaya baik barang maupun anggota badan mereka tidak terjepit. Pasalnya, kereta ini sebenarnya sudah over capacity tetapi tetap dipaksa masuk. Habis, mau gimana lagi?

Huh, tak lama pintu kereta pun sudah tertutup rapat, penumpang pun lega—tetapi tidak dengan posisi kami. Sesampainya di Jatinegara, kembali tampak segabrek penumpang dari jendela yang agak gelap sedang menunggu kereta berhenti. Kami pun sudah wanti-wanti, “Jangan naik! Jangan naik! Tolong!”
Benar saja, saat kereta berhenti lalu membuka pintu otomatis, ibu-ibu yang berdiri di pintu berkata demikian kepada para calon penumpang yang ingin naik. Dan sepertinya, dari sekian orang di stasiun itu, tidak ada satupun yang naik ke gerbong kami—khusus wanita.

Kereta ini pun sudah tidak mampu membendung para calon penumpangnya yang berceceran di setiap stasiun. Tetapi kereta tetap melanjutkan perjalanan ke setiap stasiun, tidak untuk menaiki penumpang, tetapi justru khusus hanya untuk menurunkan penumpang.



Aku mengambil foto ini saat para penumpang sudah mulai berkurang, tepatnya setelah Stasiun Klender Baru. Ini jauh lebih longgar dibandingkan saat masih di Manggarai. Bersyukur, di stasiun-stasiun selanjutnya jumlah penumpang terus berkurang dan berkurang. Semakin lega ruang gerakku kini dan sekarang sudah bisa bernafas lebih lega!

Singkat cerita lagi, sampai di stasiun Bekasi, aku kembali mengantre untuk menukar e-ticket dengan uang sebesar Rp 5.000,00. Tadinya, aku tidak ingin menukarnya karena hari Kamis aku akan kembali ke UI untuk hari ke-2 dengan acara yang sama. Tetapi aku sedang malas membongkar dompet, lumayan untuk bayar parkir, uangnya pas! Hahaha!

Sekembalinya ku ke motor, uwaaah! Motorku basah kuyup hehehe... Aku segera mengambil kembali kunci motor dan slayer serta mengenakan sepasang sarung tangan dan helm. Ku panasi sebentar mesin motornya, takut mogok, karena motorku sering seperti itu jika hujan lebat mengguyur motorku.
Oke, langsung menuju loket pembayaran, lalu yosh! Kembali berjuang menerobos padatnya motor dan mobil di sepanjang jalan ini~ /nada bicara ala Squidward/

Alhamdulillah, tepat sekali pukul 19.30 aku tiba di rumah dengan selamat! Aku segera mengunci ganda motorku dan memasuki rumah dengan tenang. Setelah itu? Makan cemilan yang aku dapat dari event itu, lanjut makan nasi, shalat dan tidur!


Alhamdulillah, aku bisa menarik kesimpulan dan hikmah dari kegiatan hari ini,

1) Bahwa sesungguhnya kita harus belajar hidup mandiri, kita tidak bisa selamanya bergantung pada orang lain. Ada kalanya kita harus bisa melakukannya sendiri, meskipun rasa takut selalu datang di awal mencoba. Tapi yakinlah, Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.

2) Aku dapat ilmu yang cukup bermanfaat, terutama dalam tata cara menulis yang baik. Mudah-mudahan Allah selalu memudahkanku menuju cita-citaku. Aaamiin.






Deby Silarny Priscilina

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Instagram